Rabu, 28 Maret 2012

Makalah Biologi Reproduksi ( persalinan)



MAKALAH
BIOLOGI REPRODUKSI
DOSEN PENGAMPU
NONIK AYU W.SST
DISUSUN
OLEH:
ARUM RUKMANA WAHYUNINGSIH
10150167
A.74



PROGRAM STUDI D3 KEBIDANAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA



KATA PENGANTAR

            puji syukur kehadirat  Tuhan yang Maha Esa,atas  rahmat dan hidayahnya kami dapat menyelesaikan sebuah tugas  Biologi Reproduksi yang berkaitan dengan Persalinan.kami menyadari  bahwa tugas ini masih jauh dari sempurna,meskipun demikian kami berkeyakinan bahwa diantara yang buruk/kurang,tentu  ada sekelumit kecil  yang  berguna,maka dengan segala kerendahan hati,kami memberanikan diri menyelesaikan tugas ini.
          Setelah membaca dan mempelajari makalah ini semoga menambah wawasan bagi si penulis dan menambah pengetahuan bagi  yang  membaca,
Akhir kata, kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan tugas kami,semoga tugas kami ini bisa di gunakan sebagai mana mestinya.










DAFTAR ISI

                                                                                                                                    Hal
HALAMAN JUDUL………………………………………………………………………
KATA PENGANTAR……………………………………………………………………..
DAFTAR ISI……………………………………………………………………………….
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………………….
A.    Latar Belakang……………………………………………………………………..
B.     Tujuan……………………………………………………………………………...
BAB II TINJAUAN TEORITIS…………………………………………………………...
A.    Teori Terjadinya Persalinan………………………………………………………..
B.     Jenis Persalinan…………………………………………………………………….
C.     Tahapan Persalinan………………………………………………………………..
D.    Tanda_Tanda Persalinan…………………………………………………………….
E.     Pembedaan His Palsu dan His Persalinan…………………………………………...
F.      Konsep Moulage Dalam Persalinan………………………………………………....
G.    Fisiologi Persalinan Kala I dan II……………………………………………………
H.    Faktor Yang Mempengaruhi Persalinan…………………………………………….
BAB III PENUTUP…………………………………………………………………………
A.    Kesimpulan………………………………………………………………………….
B.     Saran…………………………………………………………………………………



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Persalinan adalah tugas dari seorang ibu yang harus dihadapi dengan tabah,walaupun tidak jarang mereka merasa cemas dalam menghadapi masalah tersebut.oleh karena itu mereka memerlikan penolong yang dapat di percaya yang dapat memberikan bimbingan dan selalu siap di depan dalam mengatasi kesukaran.
Persalinan adalah terjadi pada kehamilan aterm (bukan prematur atau post matur) mempunyai onset yang spontan (tidak diinduksi) selesai setelah 4 jam dan sebelum 24 jam sejak saat awitannya (bukan partus presipitatus atau partus lama) mempunyai janin (tunggal) dengan presentasi verteks (puncak kepala) dan oksiput pada bagian anterior pelvis terlaksana tanpa bantuan artificial (seperti forseps) tidak mencakup komplikasi (seperti pendarahan hebat) mencakup pelahiran plasenta yang normal.

B.     Tujuan
1.      Untuk menambah pengetahuan tentang fisiologi persalinan
2.      Untuk mengetahui tahap_tahap dan tanda_tanda  proses persalinan
3.      Untuk menambah pengetahuan








BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A.    Teori Terjadinya Persalinan
1)      Teori keregangan
·         Otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas tertentu
·         Setelah melewati batas tertentu terjadi kontraksi sehingga persalinan dapat mulai
2)      Teori penurunan progesterone
·         Proses penuaan plasenta terjadi mulai umur hamil 28 minggu.
·         Produksi progesterone mengalami penurunan, sehingga otot rahim lebih
      sensitive terhadap oksitosin
3)      Teori oksitosin internal
·         Oksitiosin dikeluarkan oleh kelenjar hipofisis parts posterior
·         Perubahan keseimbangan estrogen dan progesterone dapat mengubah
Sensitifitas otot rahim sehingga sering terjadi kontraksi Braxton Hicks
4)      Teori prostaglandin
·      Konsentrasi prostaglandin meningkat sejak umur hamil 15 minggu,
yang dikeluarkan oleh desidua
·      Pemberian prostaglandin saat hamil dapat menimbulkan kontraksi otot  
Rahim sehingga hasil konsepsi di keluarkan
·      Prostaglandin dianggap merupakan pemicu terjadinya persalinan
5)      Teori hipotalamus-pituitari dan glandula suprarenalis
·      Teori ini menunjukan pada kehamilan dengan anensefalus sering terjadi kelambatan persalinan karena tidak terbentuk hipotalamus. Teori ini dikemukakan oleh Linggin 1973
·      Malpar pada tahun 1933 mengangkat otak kelinci percobaan, hasilnya kehamilan kelinci berlagsung lebih lama.
·      Pemberian kortikosteroid yang dapat menyebabkan maturitas janin, induksi (mulainya) persalinan.
·      Dari percobaan tersebut disimpulkan ada hubungan antara hipotalamus-pituitari dengan mulainya persalinan.
·      Glandula suprarenal merupakan pemicu terjadinya persalinan

B.     Jenis Persalinan
1)      Persalinan Normal
Persalinan normal adalah bayi lahir melalui vagina dengan letak belakang kepala/ubun-ubun kecil, tanpa memakai alat bantu, serta tidak melukai ibu maupun bayi (kecuali episiotomi). Proses persalinan normal biasanya berlangsung dalam waktu kurang dari 24 jam.

2)      Persalinan Dibantu Alat

Jika pada fase kedua/ kala dua persalinan tidak maju dan janin tidak juga lahir, sedangkan Anda sudah kehabisan tenaga untuk mengejan, maka dokter akan melakukan persalinan berbantu, yaitu persalinan dengan menggunakan alat bantu yang disebut forsep atau vakum. Jika tidak berhasil maka akan dilakukan operasi caesar.

·      Persalinan Dibantu Vakun(Ekstrasi vakum
Vakum adalah seatu alat yang menggunakan cup ppenghisap yang dapat menarik bayi keluar dengan lembut.

Persalinan dengan vakum dilakukan bila ada indikasi membahayakan kesehatan serta nyawa ibu atau anak, maupun keduanya. Jika proses persalinan cukup lama sehingga ibu sudah kehilangan banyak tenaga, maka dokter akan melakukan tindakan segera untuk mengeluarkan bayi, misalnya dengan vakum. Keadaan lain pada ibu, yaitu adanya hipertensi (preeklamsia) juga merupakan alasan dipilihnya vakum sebagai alat bantu persalinan

·         Persalinan Ddibantu Forsep(Ekstrasi Forsep)
·         Forsep merupakan alat bantu persalinan yang terbuat dari logam menyerupai sendok. Berbeda dengan vakum, persalinan yang dibantu forsep bisa dilakukan meski Anda tidak mengejan, misalnya saat terjadi keracunan kehamilan, asma, atau penyakit jantung. Persalinan dengan forsef relatip lebih beresiko dan lebih sulit dilakukan dibandingkan dengan vakum. Namun kadang terpaksa dilakukan juga apabila kondisi ibu dan anak sangat tidak baik.
·         Dokter akan meletakan forsep diantara kepala bayi dan memastikan itu terkunci dengan benar, artinya kepala bayi dicengkram dengan kuat dengan forsep. Kemudian forsep akan ditarik keluar sedangkan ibu tidak perlu mengejan terlalu kuat. Persalinan forsep biasanya membutuhkan episiotomi.
·         Forsep digunakan pada ibu pada keadaan sangat lemah, tidak ada tenaga, atau ibu dengan penyakit hipertensi yang tidak boleh mengejan, forsep dapat menjadi pilihan. Demikian pula jika terjadi gawat janin ketika janin kekurangan oksigen dan harus segera dikeluarkan. Apabila persalinan yang dibantu forsep telah dilakukan dan tetap tidak bisa mengeluarkan bayi, maka operasi caesar harus segera dilakukan.
·         Pada bayi dapat terjadi kerusakan saraf ketujuh (nervus fasialis), luka pada wajah dan kepala, serta patah tulang wajah dan tengkorak. Jika hal itu terjadi, bayi harus diawasi dengan ketat selama beberapa hari. Tergantung derajat keparahannya, luka tersebut akan sembuh sendiri. Sedangkan pada ibu, dapat terjadi luka pada jalan lahir atau robeknya rahim (ruptur uteri).

3)      Persalinan Dengan Operasi Caesar
tindakan operasi caesar ini hanya dilakukan jika terjadi kemacetan pada persalinan normal atau jika ada masalah pada proses persalinan yang dapat mengancam nyawa ibu dan janin. Keadaan yang memerlukan operasi caesar, misalnya gawat janin, jalan lahir tertutup plasenta (plasenta previa totalis), persalinan meacet, ibu mengalami hipertensi (preeklamsia), bayi dalam posisi sungsang atau melintang, serta terjadi pendarahan sebelum proses persalinan.
Pada beberapa keadaan, tindakan operasi caesar ini bisa direncanakan atau diputuskan jauh-jauh hari sebelumnya. Operasi ini disebut operasi caesar elektif. Kondisi ini dilakukan apabila dokter menemukan ada masalah kesehatan pada ibu atau ibu menderita suatu penyakit, sehingga tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal. Misalnya ibu menderita diabetes, HIV/AIDS, atau penyakit jantung, caesar bisa dilakukan secara elektif atau darurat (emergency). Elektif maksudnya operasi dilakukan dengan perencanaan yang matang jauh hari sebelum waktu persalinan. Sedangkan emergency berarti caesar dilakukan ketika proses persalinan sedang berlangsung, namun karena suatu keadaan kegawatan maka operasi caesar harus segera dilakukan.
4)      Persalinan Didalam Air
Menurut dr. T. Otamar, SpOG:
“Saat melahirkan di dalam air, rasa nyeri akan berkurang ketimbang saat melahirkan di atas ranjang. Pasalnya, sirkulasi darah uterus lebih baik, sehingga sang ibu yang akan melahirkan merasa lebih rileks”.
ibu yang akan melakukan proses persalinan memasuki air kolam saat mulut rahim sudah tahap pembukaan

C.    Tahap Persalinan
1)      Tahap 1: fase pematangan / pembukaan leher rahim

Tahap awal persalinan ini dimulai begitu sudah ada pambukaan leher rahim (diketahui dari pemeriksaan dalam oleh dokter/bidan) akibat HIS. His atau nyeri bersalin adalah kontraksi rahim yang perlahan-lahan makin nyeri dan sering, serta makin lama. Sejak pembukaan 0 cm hingga 3cm, umumnya pesalinan masih berjalan lambat (bisa sampai 8 jam), sehingga masa ini disebut juga fase laten. Setelah itu hingga pembukaan lengkap biasanya berjalan lebih cepat. Keseluruhan tahap ini berlangsung hingga tercapai pembukaan lengkap (kurang lebih 10 cm), dan saat itu persalinan memasuki tahap 2. Tahap ini biasanya berjalan lebih lama pada kelahiran anak pertama (bisa sampai 20 jam) dibanding kelahiran anak selanjutnya.

2)      Tahap 2 : fase pengeluaran bayi
Saat ini, his sudah sangat kuat, lebih sering, dan lebih lama ketimbang sebelumnya. Ibu akan merasakan keinginan mengejang yang sangat kuat dan tidak lagi bisa ditahan. Dokter atau bidan akan mulai memimpin ibu meneran. Caranya, ibu dalam posisi berbaring terlentang atu miring ke samping, kedua lengan merangkul kedua lipat lutut, kapala dan mata melihat ke arah perut. Seiring munculnya his ibu meneran/mengedan sekuat-kuatnya, dan dihentikan/istirahat saat his berhenti. Dengan tenaga mengejang ini, janin perlahan-lahan di dorong keluar dari rahim hingga kepalanya mulai tampak di mulut jalan lahir. Kadang-kadang, agar persalinan menjadi lebih lancar, dokter perlu melakukan opisiotomi (memperlebar jalan lahir dengan cara digunting). Perlahan seiring tenaga mengejan ibu, kepala janin akan dilahirkan, yang segera disusul badan dan anggota badan. Setelah lahir seluruhnya, tali pusat akan dipotong. Setelah itu, bayi segera dikeringkan dan dihangatkan, serta diperiksa (pernapasan, warna kulit, detak jantung, tangisan dan gerakannya) untuk memastikan bayi dalam keadaan sehat.

3)      Tahap 3: fase pengeluaran plasenta
5-15 menit setelah bayi lahir, rahim akan berkontraksi (terasa sakit). Rasa sakit ini biasanya menandakan lepasnya plasenta dari perlekatannya di rahim. Perlepasan ini biasanya disertai perdarahan baru. Setelah itu, plasenta akan keluar (dilahirkan) lewat jalan lahir, baik secara otomatis maupun dengan bantuan dokter/bidan. Setelah itu plasenta akan diperiksa guna memastikan sudah lahir lengkap (jika masih ada jaringan plasenta yang tertinggal dalam rahim, bisa terjadi perdarahan).


4)      Tahap 4: observasi setelah persalinan
Setelah persalinan selesai dan plasenta sudah dilahirkan, ibu biasanya masih beristirahat di ruang persalinan hingga 1 jam setelah melahirkan. Gunanya agar dokter/bidan bisa mengawasi kondisi ibu agar tidak timbul komplikasi seperti perdarahan pasca persalinan.

D.    Tanda_Tanda Persalinan
Persepsi awam umumnya menyamakan dimulainya proses kelahiran dengan rasa sakit akan bersalin. Namun kadang-kadang rasa sakit ini tidak segera muncul meskipun proses persalinan sudah mulai, karena itu perlu diketahui tanda-tanda persalinan lainnya yang terutama dijumpai adalah kapiler serta pergeseran antara selaput ketuban dengan dinding dalam rahim.
  1) keluar lendir bercampur darah dari jalan lahir, Keluarnya lendir ini terjadi akibat terlepasnya gumpalan  lendir yang selama kehamilan menumpuk disekitar leher rahim, diikuti terbukanya pembuluh darah
2) penipisan dan pendataran leher rahim, (hanya dapat diketahui lewat pemeriksaan dalam oleh dokter atau bidan). Leher rahim akan membuka hingga 10 cm, pada saat itu biasanya janin sudah bisa dilahirkan.
3) pecahnya ketuban secara spontan, diikuti keluarnya cairan ketuban yang bening dan berbau agak amis. Ibu mungkin merasa seperti tiba-tiba ngompol, jika ketuban sudah pecah segeralah kerumah sakit/bidan. Jika dibiarkan terlalu lama dikhawatirkan bisa terjadi infeksi yang membahayakan baik ibu maupun janin.



Tanda
Artinya
Kapan Terjadi
Perasaan seolah-olah bayi sudah turun ke bawa
Lightening yaitu turunya bayi,kepala bayi telah masuk kedalam panggul ibu
Mulai dari beberapa minggu sampai beberapa jam sebelum persalinan di mulai
Keluar cairan dari vagina(jernih berwarna pink atau sedikit mengandung darah)
Show, yaitu lender kental yang tertimbun di serviks selama kehamilan.ketika serviks mulai berdilatasi,lender ini terdorong kevagina
Beberapa hari sebelum persalinan dimulai atau pada awal persalinan
Keluar cairan encer  yang memancar atau menguncur dari vagina
Selaput ketuban pecah yaitu pecangya kantung berisi cairan yang mengelilingi bayi selama dalam kandungan
Mulai dari beberapa jam sebelum persalinan dimulai sampai setiap saat selama persalinan
Pola kram yang teratur, yang mungkin dirasakan sebagai nyeri gangguan atau kram menstruasi
Kontraksi,yaitu mengkerut & mengendurnya rahim semakin dekat saat persalinan, kontraksi ini semakin kuat & bias menyebabkan nyeri karna serviks membuka & bayi bergerak di sepanjang jalan lahir
Pada awal persalinan


E.     Perbedaan His Palsu Dan His Persalinan
1)      Hia Persalinan
·         His terkoordinir
·         Kuat
·         Cepat
·         Lebih lama 3-4 kali dalam 10 menit
·         Durasi sampai >40 kali
·         Rasa nyeri tidak hilang dengan istirahat
·         Nyeri teratur
·         Pemberian obat penenang tidak menghentikan nyeri
2)      His Persalinan
·         His Persalinan
·         Kadang kuat, kadang tidak
·         Waktu dan durasinya tidak teratur
·         Nyeri hilang dengan beristirahat
·         Nyeri tidak teratur
·         Pemberian obat penenang akan menghilangkan rasa nyeri

F.     Konsep Moulage Dalam Persalinan
·         Molase kepala janin
Derajat molase merupakan tanda penting adanya disproporsi kepala dan panggul.
Molase hebat dengan kepala janin masih diatas PAP merupakan tanda adanya gangguan pada imbang sepalopelvik yang berat.
Catatan mengenai molase dibuat tepat dibawah catatan mengenai keadaan air ketuban:
0 Tulang-tulang kepala teraba terpisah satu sama lain da sutura mudah diraba.
+ Tulang-tulang kepala saling menyentuh satu sama lain
++ Tulang-tulang kepala saling tumpang tindih
+++ Tulang-tulang kepala saling tumpang tindih lebih hebat
·         Molase
Molase hebat pada kepala janin yang masih tinggi merupakan petunjuk adanya disproporsi kepala panggul.
MolaseAdalah penyusupan antara tulang kronium, dalam partographditandai dengan :
0: tulang kepala janin terpisah.
1: hanya bersentuhan.
2: saling tumpang tindih, dapat dipisah.
3: saling tumpang tindih, tidak dapat dipisah

G.    Fisiologi Persalinan Kala I dan II
1)      Fisiolpgis Persalinan Kala I
Tanda Vital
a)      Tekanan darah
Terjadi peningkatan tekanan darah, sistole naik 15 mmhg dan diastole naik 10-15mmhg karena pengaruh sakit dan cemas
b)      Suhu
Terjadi kenaikan suhu antara 0,5-1ÂșC karena adanya kenaikan metabolism
c)        Nadi
Terjadi peningkatan nadi sehubungan dengan meningkatnya metabolism
d)     Pernafasan
Pernafasan juga meningkat sehubungan dengan meningkatnya metabolism
e)      Metabolisme
Metabolisme meningkat secara berangsur-angsur yang ditandai adanya peningkatan tanda-tanda vital sebagai akibat dari kecemasan
f)       Uterus
Kontraksi uterus dimulai dari fundus uteri dan terus menyebar kedepan dan ke bawah abdominal, Kontraksi uterus berakhir dengan masa panjang dan sangat kuat pada fundus selagi uterus berkontraksi dan relaksasi memungkinkan kepala janin masuk ke rongga pelvis dan menyebabkan serviks mulai membuka dan menipis
g)      Serviks
Mendekati persalinan serviks menyiapkan diri menjadi lebih lembut , persalinan , mulai menipis dan membuka
h)      Affacement/penipisan
Persalinan berhubungan dengan pemendekan dan penipisan serviks. Panjang serviks pada akhir kehamilan normal berubah-ubah (beberapa mm sampai 3 cm) Dengan dimulainya persalinan
panjang serviks berkurang berkurang secara teratur sampai menjadi sangat lembek (beberapa mm) .Serviks yang menipis ini disebut sebagai serviks yang menipis penuh
i)        Dilatasi
Pembukaan serviks terjadi secara progresif dan dianggap membuka lengkap apabila telah mencapai diameter 10 cm. Pengukuran menggunakan jari telunjuk dan jari tengah saat melakukan periksa dalam
                        Penipisan dan dilatasai serviks berbeda pada nullipara dan multipara
·         Multipara
Sebelum persalinan serviks tidak menipis tapi hanya membuka 1-2 cm.
Pada saat persalinan serviks membuka dan menipis bersamaan
·         Nullipara
Sebelum persalinan serviks menipis 50-60%. Pembukaan sampai 1 cm
Pada persalinan penipisan mencapai 50-100% baru kemudian dimulai pembukaan

2)Fisiologi Persalinan Kala II
            Kala II dimulai dengan pembukaan lengkap dari serviks dan berakhir dengan lahirnya kepala bayi.
            Tanda dan gejala masuk kala II adala
1.      Adanya peningkatan tanda-tanda vital
2.      Ibu ingin mengejan
3.      Perineum menonjol
4.      Kemungkinan ibu ingin BAK
5.      Vulva, vagina dan sfingter Ani membuka
6.      Jumlah pengeluaran air ketuban meningkat
7.      His semakin kuat dengan interval 2-3x/menit, durasi 50-60 detik
8.      Menjelang akhir kala I ketuban pecah dan ditandai dengan pengeluaran cairan secara mendadak
9.      Kekuatan his dan meneran akan mendorong kepala janin untuk membuka pintu dengan sub oksiput berperan sebagai hipomoklion dan berturut-turut kemudian lahirlah UUB, dahi, mulut, kepala seluruhnya kemudian bayi akan melakukan putaran paksi luar. dan diikuti dengan lahirnya bayi seluruhnya
10.  . Kala II berlangsung:
              Pada primipara : 50 menit
    Pada multipara: 40 menit ( Manuaba,1998: 166)
Untuk melakukan asuhan persalinan normal dirumuskan 58 langkah asuhan persalinan normal sebagai berikut (Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur, 2003):
1.      Mendengar & Melihat Adanya Tanda Persalinan Kala Dua.
2.      Memastikan kelengkapan alat pertolongan persalinan termasuk mematahkan ampul oksitosin & memasukan alat suntik sekali pakai 2½ ml ke dalam wadah partus set.
3.      Memakai celemek plastik.
4.      Memastikan lengan tidak memakai perhiasan, mencuci tangan dgn sabun & air mengalir.
5.      Menggunakan sarung tangan DTT pada tangan kanan yg akan digunakan untuk pemeriksaan dalam.
6.      Mengambil alat suntik dengan tangan yang bersarung tangan, isi dengan oksitosin dan letakan kembali kedalam wadah partus set.
7.      Membersihkan vulva dan perineum dengan kapas basah dengan gerakan vulva ke perineum.
8.      Melakukan pemeriksaan dalam - pastikan pembukaan sudah lengkap dan selaput ketuban sudah pecah.
9.      Mencelupkan tangan kanan yang bersarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5%, membuka sarung tangan dalam keadaan terbalik dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5%.
10.  Memeriksa denyut jantung janin setelah kontraksi uterus selesai – pastikan DJJ dalam batas normal (120 – 160 x/menit).
11.  Memberi tahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik, meminta ibu untuk meneran saat ada his apabila ibu sudah merasa ingin meneran.
12.  Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk meneran (Pada saat ada his, bantu ibu dalam posisi setengah duduk dan pastikan ia merasa nyaman.
13.  Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan yang kuat untuk meneran.
14.  Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil posisi nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran dalam 60 menit.
15.  Meletakan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di perut ibu, jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5 – 6 cm.
16.  Meletakan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian bawah bokong ibu
17.  Membuka tutup partus set dan memperhatikan kembali kelengkapan alat dan bahan
18.  Memakai sarung tangan DTT pada kedua tangan.
19.  Saat kepala janin terlihat pada vulva dengan diameter 5 – 6 cm, memasang handuk bersih untuk menderingkan janin pada perut ibu.
20.  Memeriksa adanya lilitan tali pusat pada leher janin
21.  Menunggu hingga kepala janin selesai melakukan putaran paksi luar secara spontan.
22.  Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, pegang secara biparental. Menganjurkan kepada ibu untuk meneran saat kontraksi. Dengan lembut gerakan kepala kearah bawah dan distal hingga bahu depan muncul dibawah arkus pubis dan kemudian gerakan arah atas dan distal untuk melahirkan bahu belakang.
23.  Setelah bahu lahir, geser tangan bawah kearah perineum ibu untuk menyanggah kepala, lengan dan siku sebelah bawah. Gunakan tangan atas untuk menelusuri dan memegang tangan dan siku sebelah atas.
24.  Setelah badan dan lengan lahir, tangan kiri menyusuri punggung kearah bokong dan tungkai bawah janin untuk memegang tungkai bawah (selipkan ari telinjuk tangan kiri diantara kedua lutut janin)
25.  Melakukan penilaian selintas :
a. Apakah bayi menangi kuat dan atau bernapas tanpa kesulitan?
b. Apakah bayi bergerak aktif ?
26.  Mengeringkan tubuh bayi nulai dari muka, kepala dan bagian tubuh lainnya kecuali bagian tangan tanpa membersihkan verniks. Ganti handuk basah dengan handuk/kain yang kering. Membiarkan bayi atas perut ibu.
27.  Memeriksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada lagi bayi dalam uterus.
28.  Memberitahu ibu bahwa ia akan disuntik oksitasin agar uterus berkontraksi baik.
29.  Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntikan oksitosin 10 unit IM (intramaskuler) di 1/3 paha atas bagian distal lateral (lakukan aspirasi sebelum menyuntikan oksitosin).
30.  Setelah 2 menit pasca persalinan, jepit tali pusat dengan klem kira-kira 3 cm dari pusat bayi. Mendorong isi tali pusat ke arah distal (ibu) dan jepit kembali tali pusat pada 2 cm distal dari klem pertama.
31.  Dengan satu tangan. Pegang tali pusat yang telah dijepit (lindungi perut bayi), dan lakukan pengguntingan tali pusat diantara 2 klem tersebut.
32.  Mengikat tali pusat dengan benang DTT atau steril pada satu sisi kemudian melingkarkan kembali benang tersebut dan mengikatnya dengan simpul kunci pada sisi lainnya.
33.  Menyelimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan memasang topi di kepala bayi.
34.  Memindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5 -10 cm dari vulva
35.  Meletakan satu tangan diatas kain pada perut ibu, di tepi atas simfisis, untuk mendeteksi. Tangan lain menegangkan tali pusat.
36.  Setelah uterus berkontraksi, menegangkan tali pusat dengan tangan kanan, sementara tangan kiri menekan uterus dengan hati-hati kearah doroskrainal. Jika plasenta tidak lahir setelah 30 – 40 detik, hentikan penegangan tali pusat dan menunggu hingga timbul kontraksi berikutnya dan mengulangi prosedur.
37.  melakukan penegangan dan dorongan dorsokranial hingga plasenta terlepas, minta ibu meneran sambil penolong menarik tali pusat dengan arah sejajar lantai dan kemudian kearah atas, mengikuti poros jalan lahir (tetap lakukan tekanan dorso-kranial).
38.  Setelah plasenta tampak pada vulva, teruskan melahirkan plasenta dengan hati-hati. Bila perlu (terasa ada tahanan), pegang plasenta dengan kedua tangan dan lakukan putaran searah untuk membantu pengeluaran plasenta dan mencegah robeknya selaput ketuban.
39.  Segera setelah plasenta lahir, melakukan masase pada fundus uteri dengan menggosok fundus uteri secara sirkuler menggunakan bagian palmar 4 jari tangan kiri hingga kontraksi uterus baik (fundus teraba keras).
40.  Periksa bagian maternal dan bagian fetal plasenta dengan tangan kanan untuk memastikan bahwa seluruh kotiledon dan selaput ketuban sudah lahir lengkap, dan masukan kedalam kantong plastik yang tersedia.
41.  Evaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum. Melakukan penjahitan bila laserasi menyebabkan perdarahan.
42.  Memastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi perdarahan pervaginam.
43.  Membiarkan bayi tetap melakukan kontak kulit ke kulit di dada ibu paling sedikit 1 jam.
44.  Setelah satu jam, lakukan penimbangan/pengukuran bayi, beri tetes mata antibiotik profilaksis, dan vitamin K1 1 mg intramaskuler di paha kiri anterolateral.
45.  Setelah satu jam pemberian vitamin K1 berikan suntikan imunisasi Hepatitis B di paha kanan anterolateral.
46.  Melanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan pervaginam.
47.  Mengajarkan ibu/keluarga cara melakukan masase uterus dan menilai kontraksi.
48.  Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah.
49.  Memeriksakan nadi ibu dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit selama 1 jam pertama pasca persalinan dan setiap 30 menit selama jam kedua pasca persalinan.
50.  Memeriksa kembali bayi untuk memastikan bahwa bayi bernafas dengan baik.
51.  Menempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi (10 menit). Cuci dan bilas peralatan setelah di dekontaminasi.
52.  Buang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah yang sesuai.
53.  Membersihkan ibu dengan menggunakan air DDT. Membersihkan sisa cairan ketuban, lendir dan darah. Bantu ibu memakai memakai pakaian bersih dan kering.
54.  Memastikan ibu merasa nyaman dan beritahu keluarga untuk membantu apabila ibu ingin minum.
55.  Dekontaminasi tempat persalinan dengan larutan klorin 0,5%.
56.  Membersihkan sarung tangan di dalam larutan klorin 0,5% melepaskan sarung tangan dalam keadaan terbalik dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5%
57.  Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
58.  Melengkapi partograf.

H.    Faktor-faktor yang mempengaruhi persalinan :
1.      Passage(Jalan Lahir)
Jalan lahir terdiri dari panggul ibu, yakni bagian tulang padat, dasar panggul, vagina, dan  introuitus(lubang luar vagina). Meskipun jaringan lunak, khususnya lapisan-lapisan otot dasar panggul okut menunjang kelahiran bayi, tetapi panggul ibu jauh lebihh berperan dalam proses persalinan. Janin harus berhasil menyesuaikandirinya terhadap jalan lahir yang relative kaku. Oleh karena itu ukuran dan bentuk panggul harue ditentukan sebelum persalinan
2.      Passenger(Janin dan Plasenta)
nin bergerak sepanjang jalan lahir merupakan akibat interaksi beberapa factor yakni ukuran kepala janin, letak, sikap, dan posisi janin. Karena placenta juga harus melewati jalan lahir, maka dianggap passenger yang menyertai janin. Namun placenta jarang menghambat proses persalinan pada kehamilan normal.
 
3.      Power(Kekuatan)
Kekuatan terdiri dari kemampuan ibu untuk mengejan saat terjadi kontraksi dalam proses persalinan untuk segera mlahirkan bayinya.
4.      Psikologis(Ibu dan Penolong)
Wanita normal tentu memiliki ketakutan dalam menghadapi masa persalinan, namun ketakutan yang berlebihan harus dihindari agar psikologis ibu tidak terganggu. Selain keluarga, bidan juga berperan dalam memberikan dukungan, semangat, serta rasa aman. Dan bidan harus bersikap professional dalam menangani persalinan.
5.       Penolong(Tenaga Kesehatan Terlatih)
Tenaga kesehatan yang akan menolong persalinan harus tenaga kesehatan yang terlatih, karena peran dari penolong persalinan adalah mengantisipasi dan menangani komplikasi yang mungkin terjadi pada ibu dan janin.







BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Tenaga medis harus mengetahui proses proses kelahiran agar dapat menolong persalinan dengan baik dan benar
B.     Saran
Sebaiknya ibu hamil dalam proses kelahirannya dibantu dibantu dengan tenaga medis agar dalam proses persalinan dapat berjalan normal















DAFTAR PUSTAKA


1.      Bagian Obstetri dan Ginekologi, Unpad Pimpinan Persalinan Biasa. ObstetriFisiologi. 19802.
2.      Asuhan Persalinan Normal, Jakarta : JNPKKR 3.
3.      Asuhan Bayi Baru Lahir, Jakarta : Pusdiknakes – WHO – JHPIEGO. 20

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar